Sabtu, 21 November 2015

Danau Toba Indah


WISATA DANAU TOBA DAN PULAU SAMOSIR


Danau toba adalah sebuah danau vulkanik yang sejatinya merupakan bekas kawah letusan gunung terbesar di dunia, dengan sebuah pulau di tengahnya yang diberi nama pulau Samosir.

Danau toba memiliki luas 1707 Km persegi atau lebih dari dua kali luas Singapura, terbentuk dari letusan gunung purba raksasa yang menurut beberapa penelitian disaat letusannya sempat merubah iklim dunia dan membawa dunia ke dalam zaman es. Letusan raksasa tersebut hampir memusnahkan manusia di dunia ini. Peninggalan letusan tersebut masih bisa dilihat berupa kaldera terbesar di dunia yang saat ini terisi air menjadi danau Toba. Pulau samosir adalah bagian kaldera yang tidak terendam air, terletak di tengah-tengah danau Toba dan merupakan pusat dari kebudayaan Batak.

Danau toba merupakan salah satu tujuan wisata populer di indonesia, mesti demikian tempat ini sebenarnya tidak terlalu ramai, sehingga cocok untuk anda yang ingin bersantai..

Danau Toba

Untuk mencapai danau Toba, Dari kota Medan anda bisa menuju Parapat dengan lama perjalanan sekitar 5 Jam. Apabila anda tiba di Medan menggunakan pesawat terbang, dari bandara pertama anda harus menuju terminal Bus Amplas menggunakan kendaraan umum No 64 dengan harga Rp. 3000 / Orang. Dari terminal Amplas ambil Bus menuju Parapat dengan tarif sekitar Rp. 22.000 / Orang. Apabila anda ingin lebis simple, anda bisa menyewa mobil dengan tarif sekitar Rp. 450.000 sudah termasuk driver dan bahan bakar, atau bisa menggunakan Taxi.
 

Alternatif lain menuju danau Toba ialah dengan menggunakan kereta api. Perjalanan menggunakan kerteta api menuju Pematang Siantar atau Tebing Tinggi menyguhkan pemandangan yang tak akan terlupakan, sangat indah. Dari sini anda bisa melanjutkan perjalanan ke Parapat dengan menggunakan Taxi.

Ukiran rumah Tradisional Batak

Pemandangan eksotis lain akan anda dapatkan ketika anda menaiki ferry menuju pulau samosir, suasana yang memberikan ketenangan batin. Selama perjalanan anda bisa menikmati jajanan yang banyak dijajakan oleh pedagang asongan yang ramah.

Dari Parapat perjalanan dilanjutkan dengan menaiki perahu / kapal ferry menuju pulau samosir dengan tarif Rp. 7000 / Orang, tujuannya ialah Tuktuk Siodang di pulau Samosir. Tuktuk adalah salah satu tempat yang tepat untuk menikmati danau Toba, di sini juga banyak terdapat hotel & penginapan yang dapat anda gunakan.

Pulau Samosir

Selain menikmati keindahan alam dan danau serta keramahan penduduknya, selama berada di Samosir anda bisa melihat objek wisata lain seperti melihat kuburan batu, Simando, Ambarita (meja batu tempat hukuman tradisional Batak) atau berenang di kolam air panas alam.

Aek sijorni

Wisata Aek Sijorni







Aek sijorni adalah salah satu tempat wisata air yang berada di kabupaten tapanuli selatan  yaitu di daerah desa aek Libung Kecamata Sayurmatinggi  Sumatera Utara. Dimana lokasi ini berdekatan juga dengan kota padangsidimpuan tepatya berjarak kurang lebih 35 Km dari kota Padangsidimpuan. Jika kita mulai trip perjalan dari kota padangsidimpuan menuju tempat wisata ini, bisa menaiki angkot Aek mais dengan ongkos  RP 5000. Aek Sijorni ini bersal dari bahasa batak dari kata “aek” yang berarti “air” dan kata “jorni” yang berarti air yang jernih, dimana memang aek sijorni ini memiliki warna air yang jernih dan bersih sesuai dengan namanya.






Ditempat ini juga sudah diberikan fasilitas, yaitu seperti pondok, warung, musholla, dan sebagainya. Untuk memasuki tempat ini kita juga harus melewati jembatan gantung (rambin) dan saat masuk biasanya akan dikenakan biaya retribusi. Tempat wisata ini sudah dikelola oleh pemeritah daerah. Semoga objek wisata ini semakin banyak pengunjungnya dan semakin jernih keuntungannya untuk daerah.


Makanan Holat Khas Padang Bolak PALUTA

Daerah Tapanuli Selatan-SUMUT banyak terdapat makanan khas daerah yang cukup lezat untuk di nikmati dan memang belum dikenal secara luas seperti salah satu pusaka kuliner turun temurun suku (masyarakat) Mandailing yaitu Holat. Holat ini memang lebih mudah kita dapati di daerah tapanuli selatan di beberapa tempat Rumah makan yang hanya berupa bangunan sederhana khusus menyediakan makanan khas ini. Makanan khas yang bernama Holat ini adalah, Ikan Mas Bakar lalu direndam dengan kuah/kaldu dengan bumbu-bumbu rahasia lalu ditaburi bawang goreng. Dimangkok ini mengapung Balak’at dan Pak’at, khusus Balak’at inilah letak rahasia bumbu resepnya. Balak’at sejenis pohon dihutan lalu kulitnya diserut halus menjadi serpihan seperti bawang goreng. Balak’at ini bersatu dan larut bersama kaldu dalam mangkok dalam bentuk serpihan yang lembut. Sedangkan Pak’at adalah pucuk rotan muda yang tumbuh di hutan atau lahan-lahan perladangan masyarakat Tapanuli. Sebelum layak dimakan Rotan muda berwarna hijau (lihat foto) dibakar dulu, setelah gosong permukaan rotan ini lalu dikupas dan diambil intinya yang berwarna putih inilah yang siap dimakan bersama holat. Tentang Pak’at ini bagi suku Mandailing tak ubahnya lalapan seperti daun kemangi bagi suku Sunda, apapun menu mereka sehari-hari dipedesaan Pak’at ini selalu menjadi pendamping setia setiap santap siang dan malam. 
Holat ini biasanya di sajikan bersama secambung nasi putih yang panas, Semangkok Holat dihidangkan bersama sambal cabe hijau yang digiling halus dengan sepotong jeruk nipis, kecap manis dan asin (tergantung selera) serta lalapan berupa petai atau jengkol mentah. Jengkol atau Petai.
Sambal cabe hijau didalam piring kecil dikasih perasan jeruk nipis lalu ada dua pilihan atau sekaligus dicampur/diaduk dengan kecap asin dan kecap manis. Nasi panas dalam piring makan disuap, lalu suir daging ikan mas bakar yang direndam kaldu cocolkan ke sambel, sambil alat kunyah anda bermain di mulut sendok kaldu holat bersama Balak’at. Nah yang ini gigit petai mentah berkulit lalu Pak’at yang mengapung dalam mangkok olesi dengan sambal cabe hijau di piring kecil lalu ikutkan bersama nasi, ikan bakar, petai mentah dan kuah holat bersama Balak’at yang anda lumatkan dalam mulut. Rasakanlah sensasi nikmatnya yang “huuh” bikin keringat berderai. Ikan Mas bakar yang gurih dengan pedas menggigit sambal dengan sentuhan asam jeruk nipis dan asin kecap, kaldu yang sedikit sepet gurih rasa Balak’at, Pak’at yang juga sepat pahit-pahit manis dengan sentuhan sambal bersatu dengan rasa “eksotis” Mr Peter yang masih mentah. Mainkan segala indera perasa lidah anda ketika melumat ini semua..waw…memang tampil beda rasa sensasi pusaka kuliner suku Mandailing ini
                                                                                                                                      

Pantai pandan sibolga, indonesia

Pantai Pandan

Sibolga, Indonesia

Pantai Pandan

Introduksi

Pantai Pandan adalah salah satu pantai yang paling popular di Sibolga. Sibolga sendiri adalah nama sebuah kota kecil yang terletak di pesisir Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Sibolga cukup terkenal dengan wisata baharinya. Pantai Pandan terletak di pesisir Sibolga, selalu ramai dikunjungi baik hari biasa maupun hari libur. Pantai ini di kelola oleh pemerintah setempat.
Ketika berada di pantai ini, sejauh mata memandang yang akan terlihat hanyalah perairan yang membentang di laut lepas. Di sebelah kanannya terdapat sebuah bukit yang cukup tinggi yang merupakan daratan wilayah Sibolga. Di Pantai Pandan ini air lautnya berwarna hijau kebiru-biruan dan cukup jernih. Airnya tenang, bahkan tanpa ombak. Jadi, Anda bisa dengan bebasa berenang sejauh beberapa meter dari mulut pantai dengan aman. Pasir di Pantai Pandan berwarna putih dan sangat lembut. Di sekitar pantai juga sangat bersih, sehingga sekalipin Anda berkeliling pantai Anda tidak akan menemukan sampah-sampah yang berserakan.
Di sepanjang pinggiran pantai terdapat beberapa pohon-pohon yang tumbuh rindang. Diantara pepohonan itu terdapat beberapa gazebo dan tikar yang bisa Anda manfaatkan sebagai tempai beristirahat setelah Anda lelah menikmati pantai. Saat senja Anda bisa menikmati panorama matahari tenggelam di pantai ini. Warnanya yang orange kemerahan membuat pemandangan di sekitar pantai bak lukisan.

Fasilitas

Urusan perut Anda tak usah khawatir karena di Pantai Pandan banyak pedagang makanan yang menjajakan dagangannya dengan berkeliling atau warung-warung yang ada di sekitar pantai. Jangan lupa juga untuk membeli souvenir khas Pantai Pandan . bagi Anda wisatawan yang ingin menginap di pantai ini juga bisa, karena pihak mengelola juga sudah mebangun penginapan berkelas Internasional bernama Hotel Bumi Asih Pandan Beach Resort.

Akses transport

Dari Kota Sibolga Anda bisa menempuh perjalan dengan menggunakan transportasi umum. Tarifnya sekitar Rp 3.000 per orang

Senin, 16 November 2015

ADAT MANORTOR MANDAILING


 

ABSTRAK

Tapanuli Selatan adalah salah satu Kabupaten yang berada di wilayah Propinsi Sumatera Utara. Etnis yang berasal dari kabupaten ini disebut etnis Batak Mandailing, yang memiliki berbagai kegiatan adat. Horja godang adalah sebuah pesta adat  upacara perkawinan masyarakat Tapanuli Selatan, dimana aktifitas kesenian disertakan (margondang) yang  disertai dengan manortor (menari). Tortor yang ditarikan pada kegiatan ini ada beberapa tahap yaitu tortor Suhut Bolon, Tortor Kahanggi, Tortor Anak Boru, Tortor Raja-raja Torbing Balok, Tortor Panusunan Bulung, Tortor Naposo Nauli Bulung, dan Tortor Manora Pule. Pada penyajiannya, panortor ditentukan oleh system kekerabatan (dalihan na tolu) termasuk urutan tortor yang harus dilakukan.
Kata kunci : tor-tor, horja godang, magondang

Pendahuluan

 Tari atau Tor-tor di daerah Tapanuli Selatan digunakan dalam acara-acara tertentu misalnya pesta perkawinan, acara penyambutan tamu-tamu terhormat, memasuki rumah baru, atau kelahiran anak (aqiqah). Tor-tor adalah tarian yang gerakannya seirama dengan iringan musik, yang dimainkan dengan alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, dan ogung. Tor-tor biasanya dihadirkan pada saat pesta besar yang biasa disebut dengan horja godang. Sebelum horja godang dilaksanakan, tempat dan lokasi pesta dibersihkan lebih dulu, supaya pelaksanaan horja godang tersebut jauh dari marabahaya.

Tor-tor digunakan pada upacara adat perkawinan masyarakat Tapanuli Selatan, tetapi tidak semua perkawinan yang ada di daerah Tapanuli Selatan menggunakan tor-tor. Tor-tor hanya digunakan pada perkawinan yang besar yang disebut dengan horja godang, dan pada saat itulah margondang dilaksanakan. Margondang adalah sebutan untuk pesta atau pelaksanaan horja godang. Horja godang dan margondang adalah perangkat adat Tapanuli Selatan yang tidak bisa dipisahkan. Jika tidak ada horja godang maka margondang pun tidak akan dilaksanakan. Horja godang dilaksanakan selama satu hari satu malam, tiga hari tiga malam, atau tujuh hari tujuh malam. Saat ini, masyarakat lebih sering melaksanakannya selama satu hari satu malam atau tiga hari tiga malam. Setiap pelaksanaan upacara adat, ada manortor (menari), tetapi dalam manortor tidak terdapat panortor (penari) khusus, dengan demikian adat pada hakekatnya menghendaki agar semua orang yang berhak melakukan tor-tor dalam upacara adat dapat manortor. Dalam upacara adat perkawinan yang disebut horja haroan boru (pesta kedatangan pengantin yang dilaksanakan di tempat laki-laki) manortor boleh ditarikan setelah selesai maralok-alok (penyampaian pidato adat dalam suatu upacara adat). Manortor dalam suatu adat perkawinan tidak boleh dilakukan berpasangan laki-laki dan perempuan, kecuali ketika  tor-tor naposo nauli bulung (tor-tor muda-mudi) dengan ketentuan muda-mudi yang manortor tidak boleh satu marga.


Tor-tor pada upacara adat perkawinan Tapanuli Selatan diberi nama sesuai dengan status adat yang di gunakan pada saat upacara perkawinan tersebut. Oleh karena itu tor-tor dalam upacara perkawinan dikategorikan sebagai berikut:

  1. Tor-tor Suhut Bolon
  2. Tor-tor Kahanggi
  3. Tor-tor Anak Boru
  4. Tor-tor Raja-raja Torbing Balok
  5. Tor-tor Panusunan Bulung
  6. Tor-tor Naposo Nauli Bulung
  7. Tor-tor Manora Pule ( pengantin)
Seluruh tor-tor tersebut di atas, ditarikan pada hari pertama, kedua dan ketiga. Setiap tor-tor di atas selalu dimulai dari pihak laki-laki sampai selesai, kemudian dilanjutkan oleh pihak perempuan dan begitu seterusnya. Penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk menjelaskan tor-tor sebagai sebuah bentuk tari pada upacara perkawinan masyarakat Tapanuli Selatan.

Perumusan Masalah


  1. Bagaimanakah bentuk penyajian tor-tor pada upacara adat perkawinan masyarakat Tapanuli Selatan?
  2. Bagaimanakah tata aturan dalam penyajian tor-tor pada upacara adat perkawinan masyarrrakat Tapanuli Selatan?

 Landasan Teoritis Dan Kerangka Konseptual

 1. Pengertian Tor-tor 

Masyarakat Tapanuli Selatan, menyebut tari adalah tor-tor. Menurut Tambunan (1977: 170), secara leksikal kata tor-tor berarti gerakan. Pengertian ini diambil dari kata kerja manortor (menari). Tor-tor merupakan kebudayaan yang cukup lama tanpa diketahui siapa penggagasnya. Tor-tor memiliki keunikan dan ciri khas yang menempatkan tor-tor sebagai bagian dalam acara-acara adat. Tor-tor adalah tarian yang gerakannya seirama dengan iringan musik yang dimainkan oleh alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, dan ogung. Bagi etnis Tapanuli Selatan, tor-tor bukan hanya gerak yang indah semata, tetapi harus berlandaskan falsafah kehidupan dan ritual serta merupakan bagian dari ritual adat yang digerakkan secara simbolis. Tor-tor berarti gerakan tubuh yang teratur, terlatih dan menjadi yang diakui dan didukung serta memiliki ciri-ciri tertentu yang dapat dilihat dan dinikmati oleh pelakunya dan penonton.

2. Pengertian Perkawinan

Menurut Undang-undang No 1 Tahun 1974 pengertian perkawianan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga). Menurut D.J Gultom (1992:53): “perkawianan adalah satu tambah satu tetap satu”, yaitu dua insan manusia yang menjadi satu pada arti sebenarnnya dari hakekat kehidupan.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dijelaskan bahwa perkawinan pada masyarakat Batak terutama Batak Mandailing adalah sakral, bukan sekedar membentuk rumah tangga dan keluarga. Batak Mandailing memandang perkawinan itu adalah suci, sebab laki-laki dan perempuan menjadi satu, sehingga para pemberi nasehat kepada pengantin pada upacara perkawinan masyarakat Batak Mandailing mengatakan, bahwa satu tambah satu adalah satu.

3. Pengertian Upacara

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 2001: 1250 ) upacara adalah mengandung pengertian peralatan menurut adat, rangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat kepada aturan-aturan yang tertentu menurut adat atau agama. Sedangkan menurut pendapat Koenjaraningrat (1991:19) bahwa:
“ upacara merupakan bagian perilaku manusia yang hanya diadakan sehubungan dengan suatu peristiwa penting saja. Tari mengambil bagian khusus di antara deretan dan sarana yang berlaku dalam pelaksanaannya”
Berdasarkan pendapat di atas dapat, upacara adalah rangkaian tindakan yang terikat kepada aturan tertentu dan mempunyai kaitan dengan peristiwa yang harus dijalankan oleh masyarakat dimana tari (tor-tor) diberlakukan dalam pelaksanaannya.

4. Pengertian Fungsi Tari

Fungsi adalah kegunanaan atau tujuan. Dalam kamus umum bahasa Indonesia yang dituliskan oleh W. J. S Poerwardarmita (1976:22) fungsi adalah pekerjaan yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Soedarsono (1976: 6) mengatakan bahwa fungsi tari itu dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
  1. Tari upacara, yaitu tari yang berfungsi sebagai sarana upacara agama dan adat
  2. Tari pergaulan (tari gembira) , yaitu tari yang berfungsi sebagai sarana  untuk mengungkapkan rasa gembira atau untuk pergaulan dan biasanya antara pria dan wanita.
  3. Tari pertujukan, yaitu tari yang garapannya khusus untuk dapat dipertunjukkan  yang nantinya setelah pertunjukkan selesai diharapkan untuk memproleh tanggapan dari penonton.
Berdasarkan pengertian fungsi tari di atas dapat disimpulakan bahwa tor-tor pada upacara adat perkawinan masyarakat Tapanuli Selatan berfungsi sebagai tari upacara untuk mencapai tujuan tertentu. 


5. Pengertian Bentuk Penyajian Tari 

Dalam kamus Bahasa Indonesia (2005: 135) “ pengertian bentuk adalah wujud dan susunan yang ditampilkan”. Pengertian penyajian berasal dari kata dasar “saji” yaitu mempersembahkan, sedangkan penyajian sendiri mengandung pengerian proses, cara dan perbuatan dalam penyajian segala sesuatu yang telah tersedia untuk dinikmati. Dari pengertian di atas maka yang dimaksud dengan bentuk penyajian dalam penelitian ini adalah susunan cara menyajikan tor-tor pada upacara adat perkawinan masyarakat Tapanuli Selatan.

Kerangka Konseptual 

Kerangka konsep dari kajian tentang tor-tor pada upacara adat perkawinan amasyarakat Tapanuli Selatan adalah ulasan menyeluruh terhadap tor-tor tersebut yang menjadi sarana upacara perkawinan horja godang. dikaji dari berbagai sudut seperti bentuk penyajian, dan tata aturan pelaksanaannya.

"TRADISI MARPANGIR MANDAILING"


http://mypaluta.blogspot.co.id/


Unte Pangir
Unte Pangir
Tradisi “marpangir” (mandi pakai sejenis jeruk purut) sudah lama di kenal oleh masyarakat batak.   Hingga kini di daerah Sipirok tradisi marpangir masih dilakukan bahkan merupakan suatu ritual yang di umum dilakukan menjelang bulan puasa. Saudara kita yang muslim akan mandi marpangir bersama di batang aek.  Belakangan tradisi ini mulai di tinggalkan oleh sebagian besar orang batak toba, tidak jelas mulai kapan tradisi ini menjadi tidak populer, namun diduga karena tradisi marpangir dianggap bagian dari hasipelebeguon (kegelapan/animisme).
Konon para datu (dukun) selalu mensyarakatkan setiap pasiennya untuk marpangir, tentunya unte pangir yang dipakai mandi tersebut sudah harus di bawa ke dukun yang bersangkutan dan di bacakan mantera-mantera. Kemungkinan besar itulah yang membuat sebagian besar orang batak toba (kristen) menganggap marpangir menjadi bagian dari hasipelebeguon
Kalau kita cermati (sekali lagi CERMATI !) sesungguhnya bukan kegiatan mandi pakai unte pangir tersebut yang salah dan menimbulkan dosa, tetapi ketika kita datang ke dukun dan membawa unte pangir untuk di bacakan mantera dan mengunakannya harus dengan persyaratan tertentu.
Dengan kata lain jika kita beli unte pangir dari pasar dan pakai mandi dirumah tanpa ritual atau mantera-mantera(syarat-sayarat tertentu) maka tidak ada unsur  hasipelebeguon.
Saya pribadi semasa hidup almarhum dainang pangintubu (Op. Tamado boru) beberapa kali marpangir atas anjuran beliau jika melihat saya letih, lesu atau sedang flu berat. Unte pangir saya titip beli  dari pasar Senen (Jakarta)  atau pasar Malabar (Perumnas I Tangerang). Unte pangir tersebut dipotong-potong dan dimasukkan ke ember, aduk  dan isi air hingga penuh. Air tersebut saya gunakan mandi. (Ingat .. tidak ada mantera maupun syarat2). Hasil yang saya dapat setelah mandi luar biasa… badan terasa segar, wangi dan tentunya efek berikutnya adalah keceriaan atau istilah kerennya “aura” nya muncul kembali.
Lama hampir 2 tahun terakhir ini marpangir tidak pernah saya lakukan lagi. (mungkin karena dainang yang biasa menganjukan sudah wafat 01 September 2007 yang lalu sehingga tidak ada lagi yang menganjurkan, he.he.he.  mestinya ini tugas siapa? Oi .Mak Agam.. jgn lupa ingatkan Bapak  Agam tuh) . Sabtu 20 Juni 09  lalu saya flu berat dan istirahat total di rumah. Saya punya komitmen harus bangun pagi pada hari Minggu 21 Juni 09 karena akan ikut ambil bagian dalam pelayanan Ibadah Pagi (pukul 06.00 wib) di HKBP Bonang Indah.  Minggu pagi pukul 04.30 saya bagun, setelah doa pagi mau mandi tapi kok rasanya badan pegal-pegal. Entah kenapa saya kepengen marpangir tapi dimana mencari unte pangir tanpa ada persiapan sebelumnya. Seketika terbersit dalam pikiran kenapa tidak pakai jeruk limo yang kebetulan ada pohonnya di teras rumah dan buahnya banyak. Alhasil saya petik 5 buah jeruk limo dan saya rajang gunakan pengganti unte pangir. Marpangir pun terlaksana dan badan saya terasa segar bugar walaupun masih tetap flu,  ketika akan berpakaian untuk berakngkat ke gereja,  istri tercinta heran kok wangi amat mandi pakai apa ? (belum tahu dia…)
Ternyata pepatah : Tidak ada rotan akar pun jadi berlaku juga untuk urusan marpangir. Tidak ada unte pangir, jeruk limo pun jadi.
Penasaran dengan khasiat yang terkandung di unte pangir (jeruk purut), saya pun searching kemana-mana dan hasilnya sbb:
Uraian :
Jeruk purut banyak ditanam orang di pekarangan atau di kebun kebun. Daunnya merupakan daun majemuk menyirip beranak daun satu. Tangkai daun sebagian melebar menyerupai anak daun. Helaian anak daun berbentuk bulat telur sampai lonjong, pangkal membundar atau tumpul, ujung tumpul sampai meruncing, tepi beringgit, panjang 8 -15 cm, lebar 2 – 6 cm, kedua permukaan licin dengan bintik bintik kecil berwarna jernih, permukaan atas warnanya hijau tua agak mengilap, permukaan bawah hijau muda atau hijau kekuningan, buram, jika diremas baunya harum. Bunganya berbentuk bintang, berwarna putih kemerah-merahan atau putih kekuningkuningan. Bentuk buahnya bulat telur, kulitnya hijau berkerut, berbenjolbenjol, rasanya asam agak pahit. Jeruk purut sering digunakan dalam masakan, pembuatan kue,atau dibuat manisan. Jeruk purut dapat diperbanyak dengan cangkok dan biji.
Nama Lokal :
NAMA DAERAH Sumatera: unte mukur, u. pangir (Batak), lemau purut, l. sarakan (Lampung), lemao puruik (Minangkabau), dema kafalo (Nias). Jawa: limau purut, jeruk wangi, jeruk purut (Sunda, Jawa). Bali: jeruk linglang, jeruk purut. Flores: mude matang busur, mude nelu. Sulawesi: ahusi lepea (Seram), lemo puru (Bragi.s). Maluku: Munte kereng (Alf’uru), usi ela (Amhoh), lemo jobatai, wama faleela (Halmahera). NAMA ASING Kaffir lime leaf and zest (I), bai magrut (T), Kabuyao, percupin orange, citron combara. NAMA SIMPLISIA Citri hystricis Folium (daun jeruk purut), Citri hystricis Pericaipium (kulit buah jeruk purut).BAGIAN YANG DIGUNAKAN Bagian yang digunakan adalah buah dan daun.
INDIKASI
Buah,jeruk purut digunakan untuk mengatasi :
– influenza,
– badan terasa lelah,
– rambut kepala yang bau (mewangikan kulit), serta
– kulit bersisik dan mengelupas.
Daun,jeruk purut digunakan untuk mengatasi :
– badan letih dan lemah sehabis sakit berat.
CARA PEMAKAIAN
Untuk obat yang diminum, sediakan 1 – 2 buah air jeruk purut yang telah masak, lalu minum.
Untuk pemakaian luar, belah jeruk purut menjadi 2 – 4 bagian, lalu gosokkan ke kulit yang bersisik atau air perasan buahnya digunakan untuk membasahi rambut setelah keramas.
CONTOH PEMAKAIAN DI MASYARAKAT
Influenza
Potong sebuah jeruk purut masak dan banyak airnya, lalu peras. Seduh air perasannya dengan 60 cc air panas. Minum sekaligus selagi hangat.
Kulit bersisik dan mengelupas
Belah jeruk purut tua menjadi dua bagian. Gosokkan pada kulit yang bersisik, kering, dan mudah mengelupas di kulit kepala atau bagian lain dari tubuh. Lakukan satu kali sehari, malam sebelum tidur.
Mewangikan rambut kepala
Cuci 1 buah jeruk purut masak sampai bersih, lalu parut. Tambahkan 1 sendok makan air bersih, lalu remas dan saring. Gunakan air saringannya untuk menggosok rambut setelah keramas.
Badan lelah setelah bekerja atau letih sehabis sakit berat
Sediakan 2 genggam daun jeruk purut segar. Rebus dalam 3 liter air sampai mendidih (selama 10 menit). Tuangkan ramuan tersebut ke dalam 1 ember air hangat dan gunakan untuk mandi.

Asal mula adat mandailing


Suku Mandailing
COLLECTIE TROPENMUSEUM Bruidspaar uit Pakantan Tapanuli Noord-Sumatra TMnr 10002962.jpg
Foto pasangan Mandailing dari daerah Pakantan, Mandailing Natal, Sumatera Utara.
Jumlah populasi
1.700.000 jiwa[1]
Kawasan dengan konsentrasi signifikan
Sumatera Utara 1.035.000
Sumatra Barat 214.000
Riau 210.000
Jakarta 80.000
Malaysia 30.000[2]
Bahasa
Mandailing
Minangkabau
Melayu
Agama
Islam
Kelompok etnik terdekat
Suku Minangkabau
Suku Melayu[3]
Suku Angkola[4]
Suku Alas
Suku Gayo
Suku Karo[4]
Suku Batak[3][4]
Suku Mandailing adalah salah satu suku yang ada di Asia Tenggara. Suku ini lebih banyak ditemui di bagian utara pulau Sumatera, Indonesia. Mereka datang di bawah pengaruh Kaum Padri yang memerintah Minangkabau di Tanah Datar. Hasilnya, suku ini dipengaruhi oleh budaya Islam. Suku ini juga tersebar di Malaysia, tepatnya di Selangor dan Perak. Suku ini juga memiliki keterkaitan dengan Suku Angkola.

Daftar isi

Etimologi

Mandailing merupakan gabungan dari dua kata: mande, yang berarti "ibu", dan hilang.

Sejarah

Suku Mandailing, bersamaan dengan suku Batak lainnya,[4] bermigrasi ke selatan sebelum kedatangan Portugis dan Belanda di Sumatera. Penjajahan Belanda di Sumatera menyebabkan Mandailing menjadi bagian dari Suku Batak, berdasarkan aturan irisan yang dibuat untuk mengklasifikasi dan membuat tipologi.[3] Suku Mandailing memiliki keterkaitan dengan Suku Batak Toba, akibatnya Suku Mandailing melebur menjadi satu yang dinamai Suku Batak Mandailing di Indonesia dan Suku Melayu Mandailing di Malaysia.[3]

Perang Padri

Perang Padri, yang berlokasi di Sumatera Barat dan menyebar luas di Sumatera Timur antara tahun 1803 hingga 1838, menyebabkan perpindahan besar-besaran suku Mandailing dari tempat asalnya yaitu Malaysia Barat. Kelompok tersebut dipimpin oleh Raja Asal, maharaja dari Mandailing; dan keponakannya Raja Bilah. Bersama dengan Sutan Puasa, mereka terlibat dalam Perang Klang antara tahun 1866 hingga 1873.[5]

Wilayah

Suku Mandailing lebih banyak tersebar di Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara. Kelompok pertama yang datang di wilayah tersebut adalah Lubis dan Nasution, lalu diikuti oleh Siregar, Harahap dan seterusnya.

Kontroversi

Generalisasi kata Batak terhadap etnik Mandailing umumnya tak dapat diterima oleh keturunan asli wilayah itu. Meski mayoritas masih mengakui dirinya bagian dari suku Batak, wacana identitas itu muncul disebabkan karena pada umumnya kategori "Batak" dipandang primitif dan miskin oleh etnik lain masa Orde Baru. Selain itu, perbedaan agama juga menyebabkan sebagian orang Tapanuli tidak ingin disebut sebagai Batak.[6]
Suku Mandailing memiliki ikatan darah, nasab, bahasa, aksara, sistem sosial, kesenian, adat, dan kebiasaan tersendiri yang berbeda dengan Batak dan Melayu.[butuh rujukan] Penyematan kata Batak adalah untuk memuluskan misionaris di Mandailing.[7] Istilah Batak sebagai nama etnik dikonstruksi oleh Jerman dan Belanda.[8]